Gampong Cot Girek Kandang sudah terbentuk pada masa Belanda menduduki Aceh, saat itu namanya Meunasah Cot Girek yang merupakan suatu wilayah yang banyak perbukitan sehingga dinamakan Cot (Bukit) dan adapun kata Girek adalah sebuah nama seekor burung yang berlindung dan bersarang di tanah yang berbukit. Maka kata Cot Girek dijadikan sebagai nama wilayah komunitas masyarakat dan masa berlanjut berubah menjadi Gampong Cot Girek Kandang, kata-kata Kandang adalah karena keberadaan Gampong Cot Girek di kemukiman Kandang. Meunasah Cot Girek menguasai tida waki kecil dahulunya disebut Waki (nama Dusun sekarang); Waki Blang Raya, Waki Seuneubok Aceh, Waki Cot Kiroe.dan sekarang pecah menjadi empat dusun yaitu ,dusun meunasah tuha,dusun panteu aron,dusun seunebok aceh dan dusun blang raya.
Gampong adalah sebuah wilayah kecil yang dipimpin oleh seorang keuchik dan gampong bahagian dari Kecamatan, pertama kali Cot Girek disahkan menjadi satu pemukiman masyarakat pada masa Petua (keuchik) H. Muda Tia, beliau seorang Ulee Balang (Bangsawan Aceh) yang menjadi pemimpin Meunasah Cot Girek. Pada masa kepemimpinan beliau keadaan masyarakat sangat sejahtera baik tingkat sosial, ekonomi, pendidikan dan Agama. Setelah beliau meninggal dunia maka kepemimpinan pada Meunasah Cot Girek diganti oleh Cut Nyak Sada, beliau adalah seorang wanita yang memiliki intelektual karena beliau pernah belajar pendidikan belanda sehingga mampu menjadi seorang pemimpin dan adapun beliau Isteri dari Petua H. Muda Tia, jadi beliau meneruskan kepemimpinan suaminya setelah beliau mangkat.
Terbentuknya Cot Girek menjadi sebuah Gampong sampai dengan sekarang yang sudah dipimpin oleh beberapa Petua (Keuchik) dan Petua Pertama adalah H. Muda Tia dan diteruskan oleh Cut Nyak Sada isteri dari H. Muda Tia. Pada masa Jepang masuk ke Aceh kepemimpinan Gampong Cot Girek ditunjuk pada Petua Mae (nama aslinya Ismail) namun karena keadaan waktu itu sedang memanas peperangan yang terjadi waktu itu maka beliau mengungsi dirinya ke daerah timur Aceh sehingga kepemimpinan kosong, namun dalam mengisi kekosongan pemimpin maka secara rahasia gampong dikendali oleh seorang Teungku (Tokoh Agama) yang bernama Tgk. Marhaban sampai ditunjuk pengganti lain.
Setelah Petua Mae (Ismail) mangkat dan dikebumikan di tempat pengungsiannya di wilayah timur Aceh ditunjuklah Petua Syeh (maaf tidak ada narasumber yang tau nama aslinya) dan beliaulah Petua yang menjabat sebelum merdeka, masa dahulu dalam pemilihan Petua/keuchik tidak secara demokrasi seperti masa sekarang ini pemilihan secara penunjukan oleh tokoh-tokoh tertentu. Inilah uraian singkat yang dapat kami rangkum tentang asal usul Gampong Cot Girek Kandang dan cerita ini kami terima dari narasumber yang pernah mendengar sedikit banyak dari tokoh-tokoh terdahulu, tidak ada dokumen tertulis yang kami dapatkan saat ini mungkin ke alpaan mereka (Tokoh masa lalu) tidak membukukan kisah keberadaan Gampong Cot Girek Kandang.